Ada gumam yang kuselip di ujung telunjuk sang Tuhan.
Gumam yang kerap kunyanyikan
dengan ratusan larik karmina
di dalam kelambu sang putri yunani
karna aku air…
menghela deru napas hiena
di balik dinding taring-taring putih
karna aku angin…
meniup sayap merak sang W.S Rendra
di dalam bola-bola udara ruang kecilku
karna aku bumi…
tempat air kencing dewa bergelinang,
tanpa racun
tanpa hidrogen sianida
tanpa air bekas cucian Pedang Zulqifar
Aku hanya ingin bergumam di ujung telunjuk sang Tuhan
bukan rebah di atas jejak tarian malaikat-malaikat kecil
sampai negriku tak lagi berhias kumpulan bedebah
sampai tanahku tak lagi masam oleh liur gembala iblis,
hingga pusara jadi langit
langit jadi keranda
lalu keranda kembali pada rahimnya
Sekali lagi,
Aku akan bergumam di ujung telunjuk sang Tuhan
sampai air tak lagi menjadi darah di dalam cawan Firaun.
Lalu kembali menyelinap ke dalam kelambu putri yunani,
mencipta surga,
surga yang masih ingin kutanyakan padanya.
A'uudzubillahi minasy syaithoonirrojiim.
BalasHapus