Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengurangi rasa geli yang selalu menggerogoti tubuh saya ketika ucapan "MERDEKA" menghujani Agustus, terutama ketika takwim menunjukkan angka 17 di bulan itu, seperti yang dikumandangkan banyak orang di negeri ini, negeri yang katanya telah bebas dari penjajahan. SEKALI LAGI, SAYA MERASA GELI… GELI YANG UNTUNGNYA TIDAK MENGURANGI CINTA SAYA KEPADA IBU PERTIWI… MUNGKIN HANYA GELI-GELI-MANJA… ENTAHLAH!
***
Rasa nyeri di pantat merupakan hal lumrah ketika saya pulang kampung. Kurang lebih 12 jam menempel bokong di salah satu seat angkutan umum pastinya akan memicu rasa khawatir akan berkurangnya ke-seksi-an pantat ini.
Waktu yang lama dan medan tempuh yang “ngeri-ngeri-menggoda”, selalu menjadi bahan pertimbangan saya ketika hendak pulang kampung. Maklum, dusun kecil tempat kelahiran orang tua saya itu tersembunyi di balik pegunungan yang kokoh menantang langit, dalam wilayah administratif Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Untungnya, waktu itu (2012) saya dan beberapa anggota keluarga memilih rute “Makassar-Mamuju-Mamasa”. Biaya perjalanan memang lebih besar dari rute yang lain–“Makassar-Polewali-Mamasa”. Kami tidak ingin menanggung risiko untuk rute kedua itu. Bayangkan saja, rute kedua tidak hanya menjanjikan rasa nyeri pantat, tapi juga menawarkan rasa pegal dan linu di sekujur tubuh. Rute kedua memang memicu adrenalin, khususnya ketika mini bus mulai “menantang” keperkasaan Quarles (gugusan pegunungan di Sul-Bar). Banyak titik jalan yang tidak terjamah. Lumpur tebal di antara tebing dan jurang harus ditembus. Suasana dalam mini bus seperti berjungkang di atas Gym Ball, tapi ini bukan Gym Ball, melainkan jok tua mini bus yang tidak lagi empuk. Seandainya trayek di rute kedua ini mulus, dipastikan waktu tempuh bisa jauh lebih singkat, kita bisa sampai lebih cepat sebelum pantat ini dirundung duka. Sekali lagi, kami tidak sudi membiarkan tubuh ini didera perpaduan nyeri pantat dan rasa pegal seperti habis bergulat karena trayek maut tersebut.
Bus yang kami tumpangi melaju kencang menembus beberapa kota dan kabupaten, berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Kami pun tiba di salah satu daerah pinggiran Kabupaten Mamuju. Tujuan utama kami (Kab. Mamasa) masih jauh, masih ada ratusan kilometer yang harus ditempuh. Sesuai rencana, kami akan beristirahat, apalagi Ibu dan kedua Adik saya masih harus memulihkan stamina sehabis berjibaku dengan mabuk daratnya. Dan yang terpenting dari itu, kami memang akan mengunjungi Nenek kami yang tinggal di daerah tersebut. Beliau sedari dulu menetap bersama anaknya (tante saya) yang bertugas sebagai aparatur sipil di daerah itu. Dan di situlah kisah utama dari tulisan ini dimulai. Kisah istimewa tentang kemerdekaan yang berhasil saya “santap” dalam pertemuan singkat saya dengan Sang Nenek.
***
Nenek saya bukan veteran, bukan pula agen gerilya di masa perang meski kisahnya ini masih berhubungan dengan penjajahan. Ini tentang kemenangan beliau, tentang kemerdekaannya yang hakiki, yang ia peroleh jauh sebelum bangsa ini (katanya) merdeka.
Sekilas tentang Nenek saya. Lebih tepatnya beliau adalah saudara dari orang tua Ayah saya. Meski kami tidak dalam satu garis keturunan langsung, tapi hubungan emosional antara Cucu dan Nenek selalu kental terasa saat kami bertemu. Maklum, kedua orang tua Ayah sudah tiada, makanya semua rasa cinta seorang Cucu kepada Nenek (dari Ayah) selalu saya tumpahkan pada beliau.
Meski usianya sudah sangat lanjut, beliau masih semangat membagi kisah, dan itu selaras dengan hobi saya; mengulik kisah unik dari seseorang. Waktu itu, tidak ada hal lain di kepala saya selain membidik sang Nenek sebagai “target”. Memang, menggali pengalaman hidup dari Nenek selalu menjadi hal paling lezat yang ditawarkan dalam setiap pertemuan keluarga. Apalagi anjangsana seperti waktu itu jarang terjadi.
Ketika bersantai sehabis makan siang bersama, saya mulai menggeser kursi pelastik dari arah meja makan menuju kursi khusus, singgasana sang Nenek. Duduk berjarak sekitar tiga jengkal memang hal yang harus dilakukan jika ingin berbincang dengan Nenek saya ini. Maklum, pendengarannya sudah tidak sempurna, ditambah indra penglihatannya yang sudah tidak berfungsi. Satu-satunya yang bisa ditangkap oleh matanya adalah bias cahaya dari blitz kamera ketika saya sesekali memotret beliau dan itu membuatnya risih. Nenek bahkan lirih memohon untuk tidak difoto.
Setelah mengatur posisi duduk yang ideal, aksi mengulik kisah pun saya jalankan dan Nenek sebagai "korbannya". Silih berganti topik pembicaraan kami saat itu. Mulai dari pengalaman Nenek yang berhubungan dengan jimat dan hal-hal supernatural, sampai perbincangan tentang To Pembuni (makhluk mistis yang [biasanya] bersemayam di tengah rimba kampung kami). Pokoknya banyak cerita menarik yang berhasil saya "santap" saat itu. Maklumlah, agresi saya tidak mudah berhenti menguak hal aneh dan unik yang terlanjur hadir dalam perbincangan. Tapi maaf, tidak semua saya sajikan, karena tidak relevan dari maksud utama tulisan ini, yakni mencari arti kemerdekaan dari sisi yang berbeda. Ya, apresiasi untuk 17 Agustus, yang sudah berlalu beberapa hari sejak tulisan ini di-publish.
Pembicaraan bergulir. Masuk ke topik selanjutnya – topik yang paling gurih dalam forum itu. Sekaligus kisah yang menjadi roh tulisan ini.
Suasana di ruangan itu masih seperti di awal, penuh anggota keluarga dengan aktivitas masing-masing. Saya sedikit menurunkan volume suara, berharap cuma saya dan Nenek yang mendengar. Dengan lagak sedikit memohon, saya mencondongkan kepala ke arah Nenek yang cuma berjarak tiga jengkal, sambil berkata:
“Nenek, sekarang ceritakanki’ waktunya Nenek ketemu (mulai menjalin asmara) dengan Papa’ Tua (sebutan untuk mendiang Kakek – Suaminya).”
Riuh tawa pun pecah dalam ruangan yang berbatasan langsung dengan pedapuran itu. Laring ini gagal meredam suara. Ternyata orang-orang di sekitar masih bisa mendengar.
Kalimat menggelikan itu juga membuat Nenek tak kuasa menahan gelitik. Beliau pun didera batuk, batuk yang kesekian kali sejak ia mulai berbagi kisah dengan saya. Perlu beberapa saat menunggu batuk Nenek reda.
“Weleh… ana’ku… potti’a’...” ucap Nenek – memberitahu bahwa ia mulai kewalahan – Kalimat itu juga kerap diucap orang-orang di kampung saya ketika mulai dilanda letih saat sedang mengerjakan/melakukan sesuatu. Entah saat itu sang Nenek kewalahan karena batuk atau karena efek–gelitik permintaan saya.
Setelah menyempurnakan lega tenggorokannya, Nenek pun mengabulkan permintaan konyol saya. Sebelum memulai cerita, kedua Adik saya yang sedari tadi berada dekat kami diberi wanti-wanti oleh Nenek: “Nindi sama Fei (Adik perempuan dan Adik bungsu saya) tutup telinga, Nenek mau cerita sama kakakmu. Ini tidak boleh didengar anak kecil”.
Saya sedikit tersenyum mendengar itu. Kedua adik saya pun menahan senyum di balik telapak tangannya. Ini memang etika klasik; seorang yang belum dewasa belum bisa diperdengarkan kisah tentang asmara atau percintaan.
“Nindi, Fei.! Tutup tawwa telingamu” seru saya kepada mereka. Meski saya tahu, dua “kepala batu” itu tidak mungkin menutup telinganya. Toh, Nenek juga tidak bisa melihat. Perintah saya sekadar untuk mempercepat Nenek mulai membagi kisah.
Nenek pun membongkar nostalgia asmaranya dengan Kakek (Papa’ Tua). Beliau bercerita dengan fasih. Sesekali ia mencampur bahasa daerah dan Bahasa Indonesia dalam satu tutur kalimat.
Menurut penuturan Nenek, kisah asmaranya dengan Papa’ Tua bermula ketika orang-orang di kampung kami dilanda resah karena ulah para penjajah dari Negeri Matahari Terbit (Nippon/Jepang). Beredar kabar, bahwa prajurit Jepang akan menyisir semua kampung, mencari gadis-gadis desa yang belum menikah, untuk dibawa dan dijadikan budak. Entah sebagai budak pemuas nafsu iblis mereka atau sekadar sebagai pelayan biasa. Nenek pun belum tahu pasti tentang itu.
Untuk mengatasi hal itu, katanya, orang-orang di kampung menyusun strategi untuk mengelabui Nippon dengan cara membuat status pernikahan yang manipulatif. Para perempuan lajang “dipasangkan” dengan lelaki bujang, dibuat seolah mereka telah menjadi sepasang suami-isteri. Tapi, karena ini sebatas status palsu, maka hal-hal intim yang biasa dilakukan layaknya suami-isteri tidak diberlakukan. Sekali lagi, ini hanya status manipulatif untuk mengelabui Nippon. Semacam bermain peran dalam gelisah – sandiwara penghalau bala.
Setelah mendapat "pendamping", semua pasangan lalu diberi semacam tanda berupa benda yang dikenakan sebagai penegas bahwa mereka adalah sepasang suami-isteri (meski sebenarnya hanya suami-isteri palsu). Katanya, tanda itu juga yang menjadi petunjuk serdadu Jepang saat mendeteksi perempuan desa yang masih lajang. Saya lupa bentuk benda/tanda yang Nenek maskud itu, padahal beliau sempat mendeskripsikan secara detil. Tanda/benda semacam itu MUNGKIN bagian dari leluri Ada’Mappurondo – tradisi adat leluhur di kampung saya. Saya tidak tahu pasti tentang itu.
Akhirnya, seperti gadis lajang lain, Nenek saya juga punya "suami palsu", dan tidak lain, "suami palsunya"nya adalah Papa’ Tua (Alm. Kakek) – yang akhirnya menjadi suami sungguhannya.
"Jadi begitumi, Nak. Nenek ketemu (mulai menjalin kisah asmara) dengan Papa’Tua-mu gara-gara takut dibawa sama Nippon." Ucap Nenek, menegaskan.
Sungguh ini perbincangan yang menarik dan belum ada tanda akan usai. Apalagi waktu itu Om saya menawarkan Tuak (jenis minuman keras tradisional) yang baru dipenanen. Tuak segar dan kisah Nenek yang gurih-gurih-lezat jadi perpaduan yang seksi untuk dinikmati.
Saya mulai berpikir, ternyata Nenek memulai kisah asmaranya hanya karena keadaan yang memaksa. Situasi yang mencekam mengharuskan mereka berlindung dalam “asmara buatan” yang akhirnya "keterusan", dan itu saya anggap sebagai hubungan yang tidak murni dimulai dengan cinta, kasih, dan sayang.
“Berarti pertamanya (awalnya) Nenek tidak sukaji sama Papa’ Tua? Cuma karena takutji diambil sama Jepang.!?” tanyaku, dengan nada interogasi yang lunak.
Pertanyaan ini lagi-lagi membuat Nenek tak kuasa menahan gelitik. Tak mampu mengendalikan tawa, Nenek pun kembali didera batuk. Karena batuk itu, saya mendapat teguran ringan dari salah seorang Tante yang juga sedari tadi bersama kami di ruang yang sama beserta anggota keluarga yang lain.
“Tidak bisami itu Nenekmu lama-lama cerita, karna gampang gatal lehernya kalau lama bicara” kata Tante yang merupakan sepupu Ayah saya itu.
Saya paham ucapan itu sebagai tidak tutur ilokusi. Mengisyaratkan agar saya berhenti memancing Nenek bercerita, agar beliau bisa istirahat-siang. Sebenarnya, saya juga menyimpan khawatir ketika Nenek didera batuk, tapi 'maaf' hanya saya simpan dalam hati. Saya mengabaikan ilokusi sang Tante, cukup dengan kalimat: “Oh, iya. Maumi juga selesai ini cerita.” Lalu perhatian saya kembali ke sang Nenek.
Saya menangkap bahasa tubuh Nenek yang kelihatannya juga masih ingin berlama-lama dalam forum itu. Tentu saja, karena kami jarang bertemu, terpisah jauh oleh ruang dan waktu. Nenek pun kembali bercerita dengan semangat yang masih sama seperti di awal kami berbicang. Beliau menjelaskan bahwa ada hal berbeda di balik setting-an status “bersuami”nya. Dan itu sekaligus membantah keraguan saya atas kemurnian dasar cinta yang saya tanyakan tadi.
Panjang lebar Nenek menuturkan pembelaannya. Beliau menegaskan bahwa sudah ada benih cinta yang bersemi di antara mereka sebelum "status palsu" itu dibuat.
"Papa' Tuamu memang dari dulu selalu melombä (melancarkan 'PDKT')" ucap Nenek yang diikuti tawa kecilnya, untungnya beliau tidak sampai batuk.
Nenek mengisahkan, suatu ketika, saat Nenek selesai mencuci pakaian di saruran (sumber air alami yang dipancurkan melalui batang bambu), tiba-tiba Papa' Tua muncul dan menawarkan diri untuk membantu membawakan cucian Nenek. Nenek pun dengan senang hati mempersilakan.
Perlu diketahui, jaman dulu di kampung saya, pendekatan dengan membantu membawa barang bawaan memang sudah menjadi kebiasaan yang terpatri. Konon, jika seorang lelaki “ada hati” dengan seorang gadis maka sang lelaki akan menunggu dan memantau momen saat gadis yang disukai sedang menenteng bawaan. Saat momen itu tiba, dengan sigap sang lelaki menghampiri dan menawarkan bantuan. Jika sang gadis menerima tawaran bantuan itu, diketahuilah bahwa ada harapan cinta lelaki itu tidak bertepuk sebelah tangan, karena itu merupakan simbol dan isyarat yang secara konvensi diartikan; gadis pujaan mulai terpesona. Nah, tinggal bagaimana usaha lanjutan dari sang jejaka agar gadis pujaannya benar-benar luluh.
Sejenak saya tergelitik karena kisah itu, seolah ribuan kupu-kupu bergelayut dalam perut. Sungguh, pendekatan yang unik.
Di atas kursi antik dari rotan-kayu beralas busa tebal, Nenek saya terus memaparkan indikasi lain tentang benih cinta antara beliau dan Papa' Tua. Menurut pemaparan beliau, proses terpilihnya Papa' Tua sebagai “suami palsunya” berbeda dengan kebanyakan “pasangan” lain. Katanya, kebanyakan pihak perempuan berusaha cukup keras membujuk lelaki lajang agar mau menjadi partner “sandiwaranya”. Rupanya, banyak jejaka kampung yang ragu bahkan enggan memainkan “sandiwara” tersebut kerena berpikir; jika ketahuan, mereka akan "dihabisi" oleh prajurit Nippon.
*Pasalnya, jika ada perempuan lajang yang belum “menemukan pasangan”nya dalam kampung yang sama, maka mereka (biasanya dibantu keluarga) akan terus berusaha “mencari” lelaki tak beristeri di kampung sebelah.
Berbeda dengan sang Nenek, ia tak perlu bersusah-lelah mencari “pendamping”nya karena calon “suami palsunya” yang langsung datang menawarkan diri. Papa’Tua bak kesatria yang gagah-berani memasang badan untuk melindungi sang puteri dari ancaman para penyamun. Merdekalah sang Nenek, ia tak perlu cemas lagi jika Nippon datang mencari gadis desa. Dan akhirnya, jiwa kesatria Papa’Tua itulah yang menyempurnakan mabuk asmara Nenek saya.
“yaa… waktu itumi… ku-uam illalam penabaku; ‘abana kuporae si’dasiam pole’ indetau’” kenang Nenek, mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa daerah (bahasa Bamban – salah satu rumpun bahasa daerah di Kabupaten Mamasa). Kurang lebih artinya: “Mulai saat itu, saya bergumam dalam hati; ‘memang saya sudah sungguh jatuh hati pada orang ini’”
Wow, bisa dibayangkan, peran “suami-isteri-palsu” itu pasti sangat mereka nikmati.
Kisah berlanjut. Waktu terus bergulir, sementara kabar resah tentang datangnya serdadu Nippon untuk “mengangkut” gadis-gadis desa ternyata tidak pernah terjadi. Entah, itu memang hanya isu belaka atau Nippon yang telah dicurahi ruh malaikat sampai akhirnya membatalkan niat. Tak ada yang tahu.
Dalam ingatan Nenek, banyak pasangan palsu yang terlanjur dibentuk akhirnya mengakhiri peran mereka dan kembali ke status lajang masing-masing. Tapi sekali lagi, itu tidak berlaku bagi Nenek dan Papa' Tua. Mereka memutuskan melanjutkan sandiwara itu dengan menyempurnakannya menjadi drama nyata dengan peran suami-isteri yang sesungguhnya, peran yang sebenar-benarnya, bukan lagi peran palsu pengelabu musuh.
Itu akhir dari cerita Nenek di siang itu. Saya pun tidak tega memperpanjang perbincangan. Saya lalu menuntun Nenek menuju peraduan, dalam bilik sederhana berukuran 4x4. Sambil imaji dalam kepala saya terus merefleksi kemerdekaan hakiki yang beliau peroleh.
Demikian Nenek saya meraih kemerdekaannya. Kemerdekaan seorang perempuan desa dari rasa cemas karena khawatir akan menjadi budak penjajah. Dan yang terpenting, ini adalah kemerdekaan hati beliau. Hati yang merdeka – bebas menumpahkan segala cinta kepada pejuang yang telah memenangkan hatinya.
Aghh… seandainya negeri ini juga dianugrahi kemerdekaan yang sama dengan Nenek, yang juga merdeka dari segala cemas: cemas dari segala teror dan kriminal, cemas dari sengsara kemiskinan, cemas dari penegakan hukum dan pelayanan publik yang abal-abal, cemas dari sulitnya menuntut ilmu yang berkualitas, cemas dari nepotisme, kolusi, dan korupsi, dan segala kecemasan lain yang masih menari di atas senyum Ibu Pertiwi.
Atau, paling tidak, ada yang bisa memperjuangkan kemerdekaan untuk pantat saya dan pantat orang-orang sekampung saya, agar tidak lagi didera nyeri bercampur pegal di badan karena trayek rute kedua yang tak kunjung “dimerdekakan”.
Sudahlah, mungkin bangsa ini masih berjuang, sambil menanti hadirnya jelmaan Papa' Tua – Sang Kesatria penghalau cemas, pejuang kemanangan hati, yang bisa membuat kami tak lagi ragu menumpah-wujudkan cinta kami kepada bangsa dan negara.
DIRGAHAYU UNTUK KEMERDEKAAN NENEK.! Dan doa kupanjatkan untuk Ibu Pertiwi yang tak mungkin pernah berhenti kucinta – cinta yang kurajut di ujung sang saka yang masih berkibar di Agustus ini. Salama'.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengurangi rasa geli yang selalu menggerogoti tubuh saya ketika ucapan "MERDEKA" menghujani Agustus, terutama ketika takwim menunjukkan angka 17 di bulan itu, seperti yang dikumandangkan banyak orang di negeri ini, negeri yang katanya telah bebas dari penjajahan. SEKALI LAGI, SAYA MERASA GELI… GELI YANG UNTUNGNYA TIDAK MENGURANGI CINTA SAYA KEPADA IBU PERTIWI… MUNGKIN HANYA GELI-GELI-MANJA… ENTAHLAH!
***
Rasa nyeri di pantat merupakan hal lumrah ketika saya pulang kampung. Kurang lebih 12 jam menempel bokong di salah satu seat angkutan umum pastinya akan memicu rasa khawatir akan berkurangnya ke-seksi-an pantat ini.
Waktu yang lama dan medan tempuh yang “ngeri-ngeri-menggoda”, selalu menjadi bahan pertimbangan saya ketika hendak pulang kampung. Maklum, dusun kecil tempat kelahiran orang tua saya itu tersembunyi di balik pegunungan yang kokoh menantang langit, dalam wilayah administratif Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Untungnya, waktu itu (2012) saya dan beberapa anggota keluarga memilih rute “Makassar-Mamuju-Mamasa”. Biaya perjalanan memang lebih besar dari rute yang lain–“Makassar-Polewali-Mamasa”. Kami tidak ingin menanggung risiko untuk rute kedua itu. Bayangkan saja, rute kedua tidak hanya menjanjikan rasa nyeri pantat, tapi juga menawarkan rasa pegal dan linu di sekujur tubuh. Rute kedua memang memicu adrenalin, khususnya ketika mini bus mulai “menantang” keperkasaan Quarles (gugusan pegunungan di Sul-Bar). Banyak titik jalan yang tidak terjamah. Lumpur tebal di antara tebing dan jurang harus ditembus. Suasana dalam mini bus seperti berjungkang di atas Gym Ball, tapi ini bukan Gym Ball, melainkan jok tua mini bus yang tidak lagi empuk. Seandainya trayek di rute kedua ini mulus, dipastikan waktu tempuh bisa jauh lebih singkat, kita bisa sampai lebih cepat sebelum pantat ini dirundung duka. Sekali lagi, kami tidak sudi membiarkan tubuh ini didera perpaduan nyeri pantat dan rasa pegal seperti habis bergulat karena trayek maut tersebut.
Bus yang kami tumpangi melaju kencang menembus beberapa kota dan kabupaten, berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Kami pun tiba di salah satu daerah pinggiran Kabupaten Mamuju. Tujuan utama kami (Kab. Mamasa) masih jauh, masih ada ratusan kilometer yang harus ditempuh. Sesuai rencana, kami akan beristirahat, apalagi Ibu dan kedua Adik saya masih harus memulihkan stamina sehabis berjibaku dengan mabuk daratnya. Dan yang terpenting dari itu, kami memang akan mengunjungi Nenek kami yang tinggal di daerah tersebut. Beliau sedari dulu menetap bersama anaknya (tante saya) yang bertugas sebagai aparatur sipil di daerah itu. Dan di situlah kisah utama dari tulisan ini dimulai. Kisah istimewa tentang kemerdekaan yang berhasil saya “santap” dalam pertemuan singkat saya dengan Sang Nenek.
***
Nenek saya bukan veteran, bukan pula agen gerilya di masa perang meski kisahnya ini masih berhubungan dengan penjajahan. Ini tentang kemenangan beliau, tentang kemerdekaannya yang hakiki, yang ia peroleh jauh sebelum bangsa ini (katanya) merdeka.
Sekilas tentang Nenek saya. Lebih tepatnya beliau adalah saudara dari orang tua Ayah saya. Meski kami tidak dalam satu garis keturunan langsung, tapi hubungan emosional antara Cucu dan Nenek selalu kental terasa saat kami bertemu. Maklum, kedua orang tua Ayah sudah tiada, makanya semua rasa cinta seorang Cucu kepada Nenek (dari Ayah) selalu saya tumpahkan pada beliau.
Meski usianya sudah sangat lanjut, beliau masih semangat membagi kisah, dan itu selaras dengan hobi saya; mengulik kisah unik dari seseorang. Waktu itu, tidak ada hal lain di kepala saya selain membidik sang Nenek sebagai “target”. Memang, menggali pengalaman hidup dari Nenek selalu menjadi hal paling lezat yang ditawarkan dalam setiap pertemuan keluarga. Apalagi anjangsana seperti waktu itu jarang terjadi.
Ketika bersantai sehabis makan siang bersama, saya mulai menggeser kursi pelastik dari arah meja makan menuju kursi khusus, singgasana sang Nenek. Duduk berjarak sekitar tiga jengkal memang hal yang harus dilakukan jika ingin berbincang dengan Nenek saya ini. Maklum, pendengarannya sudah tidak sempurna, ditambah indra penglihatannya yang sudah tidak berfungsi. Satu-satunya yang bisa ditangkap oleh matanya adalah bias cahaya dari blitz kamera ketika saya sesekali memotret beliau dan itu membuatnya risih. Nenek bahkan lirih memohon untuk tidak difoto.
Setelah mengatur posisi duduk yang ideal, aksi mengulik kisah pun saya jalankan dan Nenek sebagai "korbannya". Silih berganti topik pembicaraan kami saat itu. Mulai dari pengalaman Nenek yang berhubungan dengan jimat dan hal-hal supernatural, sampai perbincangan tentang To Pembuni (makhluk mistis yang [biasanya] bersemayam di tengah rimba kampung kami). Pokoknya banyak cerita menarik yang berhasil saya "santap" saat itu. Maklumlah, agresi saya tidak mudah berhenti menguak hal aneh dan unik yang terlanjur hadir dalam perbincangan. Tapi maaf, tidak semua saya sajikan, karena tidak relevan dari maksud utama tulisan ini, yakni mencari arti kemerdekaan dari sisi yang berbeda. Ya, apresiasi untuk 17 Agustus, yang sudah berlalu beberapa hari sejak tulisan ini di-publish.
Pembicaraan bergulir. Masuk ke topik selanjutnya – topik yang paling gurih dalam forum itu. Sekaligus kisah yang menjadi roh tulisan ini.
Suasana di ruangan itu masih seperti di awal, penuh anggota keluarga dengan aktivitas masing-masing. Saya sedikit menurunkan volume suara, berharap cuma saya dan Nenek yang mendengar. Dengan lagak sedikit memohon, saya mencondongkan kepala ke arah Nenek yang cuma berjarak tiga jengkal, sambil berkata:
“Nenek, sekarang ceritakanki’ waktunya Nenek ketemu (mulai menjalin asmara) dengan Papa’ Tua (sebutan untuk mendiang Kakek – Suaminya).”
Riuh tawa pun pecah dalam ruangan yang berbatasan langsung dengan pedapuran itu. Laring ini gagal meredam suara. Ternyata orang-orang di sekitar masih bisa mendengar.
Kalimat menggelikan itu juga membuat Nenek tak kuasa menahan gelitik. Beliau pun didera batuk, batuk yang kesekian kali sejak ia mulai berbagi kisah dengan saya. Perlu beberapa saat menunggu batuk Nenek reda.
“Weleh… ana’ku… potti’a’...” ucap Nenek – memberitahu bahwa ia mulai kewalahan – Kalimat itu juga kerap diucap orang-orang di kampung saya ketika mulai dilanda letih saat sedang mengerjakan/melakukan sesuatu. Entah saat itu sang Nenek kewalahan karena batuk atau karena efek–gelitik permintaan saya.
Setelah menyempurnakan lega tenggorokannya, Nenek pun mengabulkan permintaan konyol saya. Sebelum memulai cerita, kedua Adik saya yang sedari tadi berada dekat kami diberi wanti-wanti oleh Nenek: “Nindi sama Fei (Adik perempuan dan Adik bungsu saya) tutup telinga, Nenek mau cerita sama kakakmu. Ini tidak boleh didengar anak kecil”.
Saya sedikit tersenyum mendengar itu. Kedua adik saya pun menahan senyum di balik telapak tangannya. Ini memang etika klasik; seorang yang belum dewasa belum bisa diperdengarkan kisah tentang asmara atau percintaan.
“Nindi, Fei.! Tutup tawwa telingamu” seru saya kepada mereka. Meski saya tahu, dua “kepala batu” itu tidak mungkin menutup telinganya. Toh, Nenek juga tidak bisa melihat. Perintah saya sekadar untuk mempercepat Nenek mulai membagi kisah.
Nenek pun membongkar nostalgia asmaranya dengan Kakek (Papa’ Tua). Beliau bercerita dengan fasih. Sesekali ia mencampur bahasa daerah dan Bahasa Indonesia dalam satu tutur kalimat.
Menurut penuturan Nenek, kisah asmaranya dengan Papa’ Tua bermula ketika orang-orang di kampung kami dilanda resah karena ulah para penjajah dari Negeri Matahari Terbit (Nippon/Jepang). Beredar kabar, bahwa prajurit Jepang akan menyisir semua kampung, mencari gadis-gadis desa yang belum menikah, untuk dibawa dan dijadikan budak. Entah sebagai budak pemuas nafsu iblis mereka atau sekadar sebagai pelayan biasa. Nenek pun belum tahu pasti tentang itu.
Untuk mengatasi hal itu, katanya, orang-orang di kampung menyusun strategi untuk mengelabui Nippon dengan cara membuat status pernikahan yang manipulatif. Para perempuan lajang “dipasangkan” dengan lelaki bujang, dibuat seolah mereka telah menjadi sepasang suami-isteri. Tapi, karena ini sebatas status palsu, maka hal-hal intim yang biasa dilakukan layaknya suami-isteri tidak diberlakukan. Sekali lagi, ini hanya status manipulatif untuk mengelabui Nippon. Semacam bermain peran dalam gelisah – sandiwara penghalau bala.
Setelah mendapat "pendamping", semua pasangan lalu diberi semacam tanda berupa benda yang dikenakan sebagai penegas bahwa mereka adalah sepasang suami-isteri (meski sebenarnya hanya suami-isteri palsu). Katanya, tanda itu juga yang menjadi petunjuk serdadu Jepang saat mendeteksi perempuan desa yang masih lajang. Saya lupa bentuk benda/tanda yang Nenek maskud itu, padahal beliau sempat mendeskripsikan secara detil. Tanda/benda semacam itu MUNGKIN bagian dari leluri Ada’Mappurondo – tradisi adat leluhur di kampung saya. Saya tidak tahu pasti tentang itu.
Akhirnya, seperti gadis lajang lain, Nenek saya juga punya "suami palsu", dan tidak lain, "suami palsunya"nya adalah Papa’ Tua (Alm. Kakek) – yang akhirnya menjadi suami sungguhannya.
"Jadi begitumi, Nak. Nenek ketemu (mulai menjalin kisah asmara) dengan Papa’Tua-mu gara-gara takut dibawa sama Nippon." Ucap Nenek, menegaskan.
Sungguh ini perbincangan yang menarik dan belum ada tanda akan usai. Apalagi waktu itu Om saya menawarkan Tuak (jenis minuman keras tradisional) yang baru dipenanen. Tuak segar dan kisah Nenek yang gurih-gurih-lezat jadi perpaduan yang seksi untuk dinikmati.
Saya mulai berpikir, ternyata Nenek memulai kisah asmaranya hanya karena keadaan yang memaksa. Situasi yang mencekam mengharuskan mereka berlindung dalam “asmara buatan” yang akhirnya "keterusan", dan itu saya anggap sebagai hubungan yang tidak murni dimulai dengan cinta, kasih, dan sayang.
“Berarti pertamanya (awalnya) Nenek tidak sukaji sama Papa’ Tua? Cuma karena takutji diambil sama Jepang.!?” tanyaku, dengan nada interogasi yang lunak.
Pertanyaan ini lagi-lagi membuat Nenek tak kuasa menahan gelitik. Tak mampu mengendalikan tawa, Nenek pun kembali didera batuk. Karena batuk itu, saya mendapat teguran ringan dari salah seorang Tante yang juga sedari tadi bersama kami di ruang yang sama beserta anggota keluarga yang lain.
“Tidak bisami itu Nenekmu lama-lama cerita, karna gampang gatal lehernya kalau lama bicara” kata Tante yang merupakan sepupu Ayah saya itu.
Saya paham ucapan itu sebagai tidak tutur ilokusi. Mengisyaratkan agar saya berhenti memancing Nenek bercerita, agar beliau bisa istirahat-siang. Sebenarnya, saya juga menyimpan khawatir ketika Nenek didera batuk, tapi 'maaf' hanya saya simpan dalam hati. Saya mengabaikan ilokusi sang Tante, cukup dengan kalimat: “Oh, iya. Maumi juga selesai ini cerita.” Lalu perhatian saya kembali ke sang Nenek.
Saya menangkap bahasa tubuh Nenek yang kelihatannya juga masih ingin berlama-lama dalam forum itu. Tentu saja, karena kami jarang bertemu, terpisah jauh oleh ruang dan waktu. Nenek pun kembali bercerita dengan semangat yang masih sama seperti di awal kami berbicang. Beliau menjelaskan bahwa ada hal berbeda di balik setting-an status “bersuami”nya. Dan itu sekaligus membantah keraguan saya atas kemurnian dasar cinta yang saya tanyakan tadi.
Panjang lebar Nenek menuturkan pembelaannya. Beliau menegaskan bahwa sudah ada benih cinta yang bersemi di antara mereka sebelum "status palsu" itu dibuat.
"Papa' Tuamu memang dari dulu selalu melombä (melancarkan 'PDKT')" ucap Nenek yang diikuti tawa kecilnya, untungnya beliau tidak sampai batuk.
Nenek mengisahkan, suatu ketika, saat Nenek selesai mencuci pakaian di saruran (sumber air alami yang dipancurkan melalui batang bambu), tiba-tiba Papa' Tua muncul dan menawarkan diri untuk membantu membawakan cucian Nenek. Nenek pun dengan senang hati mempersilakan.
Perlu diketahui, jaman dulu di kampung saya, pendekatan dengan membantu membawa barang bawaan memang sudah menjadi kebiasaan yang terpatri. Konon, jika seorang lelaki “ada hati” dengan seorang gadis maka sang lelaki akan menunggu dan memantau momen saat gadis yang disukai sedang menenteng bawaan. Saat momen itu tiba, dengan sigap sang lelaki menghampiri dan menawarkan bantuan. Jika sang gadis menerima tawaran bantuan itu, diketahuilah bahwa ada harapan cinta lelaki itu tidak bertepuk sebelah tangan, karena itu merupakan simbol dan isyarat yang secara konvensi diartikan; gadis pujaan mulai terpesona. Nah, tinggal bagaimana usaha lanjutan dari sang jejaka agar gadis pujaannya benar-benar luluh.
Sejenak saya tergelitik karena kisah itu, seolah ribuan kupu-kupu bergelayut dalam perut. Sungguh, pendekatan yang unik.
Di atas kursi antik dari rotan-kayu beralas busa tebal, Nenek saya terus memaparkan indikasi lain tentang benih cinta antara beliau dan Papa' Tua. Menurut pemaparan beliau, proses terpilihnya Papa' Tua sebagai “suami palsunya” berbeda dengan kebanyakan “pasangan” lain. Katanya, kebanyakan pihak perempuan berusaha cukup keras membujuk lelaki lajang agar mau menjadi partner “sandiwaranya”. Rupanya, banyak jejaka kampung yang ragu bahkan enggan memainkan “sandiwara” tersebut kerena berpikir; jika ketahuan, mereka akan "dihabisi" oleh prajurit Nippon.
*Pasalnya, jika ada perempuan lajang yang belum “menemukan pasangan”nya dalam kampung yang sama, maka mereka (biasanya dibantu keluarga) akan terus berusaha “mencari” lelaki tak beristeri di kampung sebelah.
*Pasalnya, jika ada perempuan lajang yang belum “menemukan pasangan”nya dalam kampung yang sama, maka mereka (biasanya dibantu keluarga) akan terus berusaha “mencari” lelaki tak beristeri di kampung sebelah.
Berbeda dengan sang Nenek, ia tak perlu bersusah-lelah mencari “pendamping”nya karena calon “suami palsunya” yang langsung datang menawarkan diri. Papa’Tua bak kesatria yang gagah-berani memasang badan untuk melindungi sang puteri dari ancaman para penyamun. Merdekalah sang Nenek, ia tak perlu cemas lagi jika Nippon datang mencari gadis desa. Dan akhirnya, jiwa kesatria Papa’Tua itulah yang menyempurnakan mabuk asmara Nenek saya.
“yaa… waktu itumi… ku-uam illalam penabaku; ‘abana kuporae si’dasiam pole’ indetau’” kenang Nenek, mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa daerah (bahasa Bamban – salah satu rumpun bahasa daerah di Kabupaten Mamasa). Kurang lebih artinya: “Mulai saat itu, saya bergumam dalam hati; ‘memang saya sudah sungguh jatuh hati pada orang ini’”
Wow, bisa dibayangkan, peran “suami-isteri-palsu” itu pasti sangat mereka nikmati.
Kisah berlanjut. Waktu terus bergulir, sementara kabar resah tentang datangnya serdadu Nippon untuk “mengangkut” gadis-gadis desa ternyata tidak pernah terjadi. Entah, itu memang hanya isu belaka atau Nippon yang telah dicurahi ruh malaikat sampai akhirnya membatalkan niat. Tak ada yang tahu.
Dalam ingatan Nenek, banyak pasangan palsu yang terlanjur dibentuk akhirnya mengakhiri peran mereka dan kembali ke status lajang masing-masing. Tapi sekali lagi, itu tidak berlaku bagi Nenek dan Papa' Tua. Mereka memutuskan melanjutkan sandiwara itu dengan menyempurnakannya menjadi drama nyata dengan peran suami-isteri yang sesungguhnya, peran yang sebenar-benarnya, bukan lagi peran palsu pengelabu musuh.
Itu akhir dari cerita Nenek di siang itu. Saya pun tidak tega memperpanjang perbincangan. Saya lalu menuntun Nenek menuju peraduan, dalam bilik sederhana berukuran 4x4. Sambil imaji dalam kepala saya terus merefleksi kemerdekaan hakiki yang beliau peroleh.
Demikian Nenek saya meraih kemerdekaannya. Kemerdekaan seorang perempuan desa dari rasa cemas karena khawatir akan menjadi budak penjajah. Dan yang terpenting, ini adalah kemerdekaan hati beliau. Hati yang merdeka – bebas menumpahkan segala cinta kepada pejuang yang telah memenangkan hatinya.
Aghh… seandainya negeri ini juga dianugrahi kemerdekaan yang sama dengan Nenek, yang juga merdeka dari segala cemas: cemas dari segala teror dan kriminal, cemas dari sengsara kemiskinan, cemas dari penegakan hukum dan pelayanan publik yang abal-abal, cemas dari sulitnya menuntut ilmu yang berkualitas, cemas dari nepotisme, kolusi, dan korupsi, dan segala kecemasan lain yang masih menari di atas senyum Ibu Pertiwi.
Atau, paling tidak, ada yang bisa memperjuangkan kemerdekaan untuk pantat saya dan pantat orang-orang sekampung saya, agar tidak lagi didera nyeri bercampur pegal di badan karena trayek rute kedua yang tak kunjung “dimerdekakan”.
Sudahlah, mungkin bangsa ini masih berjuang, sambil menanti hadirnya jelmaan Papa' Tua – Sang Kesatria penghalau cemas, pejuang kemanangan hati, yang bisa membuat kami tak lagi ragu menumpah-wujudkan cinta kami kepada bangsa dan negara.
DIRGAHAYU UNTUK KEMERDEKAAN NENEK.! Dan doa kupanjatkan untuk Ibu Pertiwi yang tak mungkin pernah berhenti kucinta – cinta yang kurajut di ujung sang saka yang masih berkibar di Agustus ini. Salama'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar